Berita  

Grebek Suro di Puncak Setopeng, Lembaga Adat Ngudi Rahayu Lestarikan Tradisi Lewat Santunan Anak Yatim dan Pentas Jaranan

 

Malang – DMTVmalang.com  Semangat melestarikan tradisi leluhur kembali ditunjukkan Lembaga Adat Setopeng Ngudi Rahayu melalui penyelenggaraan Grebek Suro 2026 yang berlangsung khidmat sekaligus meriah di kawasan Puncak Setopeng, Dusun Sumberjo RW 14, Desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Rabu (1/7/2026).

7o

Perayaan Grebek Suro digelar selama dua hari sebagai wujud pelestarian budaya sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali pada Selasa (30/6/2026) dengan pemberian santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial, dilanjutkan doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan ketenteraman bagi seluruh warga.

Memasuki puncak acara pada Rabu (1/7/2026), ratusan warga memadati kawasan Setopeng untuk mengikuti kirab budaya.
Secara bergotong royong, masyarakat mengarak tumpeng menuju Puncak Setopeng sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Iring-iringan berlangsung semarak dengan partisipasi ibu-ibu yang menari sepanjang perjalanan serta murid-murid SD hingga taman kanak-kanak yang turut mengiringi kirab tumpeng. Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi, dengan ratusan warga ikut berjalan bersama hingga ke puncak.

Setibanya di lokasi, prosesi dilanjutkan dengan selamatan atau kenduri Suran yang menjadi simbol ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya para leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Suasana semakin semarak ketika masyarakat disuguhi pentas seni Jaranan yang mendapat sambutan meriah dari warga. Kesenian tradisional tersebut tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya serta penguatan identitas lokal di tengah pesatnya perkembangan zaman.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Desa Bandungrejo Marlin, Babinsa, Linmas, Kepala Dusun Sumberjo Parmin, perangkat desa, Ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, sesepuh desa, serta ratusan warga yang mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh khidmat dan kebersamaan.

Ketua Panitia, Katimin, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Grebek Suro merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menjaga tradisi leluhur agar tetap lestari, sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat. Semoga Grebek Suro terus menjadi agenda budaya yang dinantikan setiap tahun,” ujarnya.

Tokoh masyarakat, Misno, menambahkan bahwa Grebek Suro bukan sekadar agenda tahunan, melainkan tradisi sakral yang sarat makna.

“Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan, rasa syukur, gotong royong, dan penghormatan kepada para leluhur. Nilai-nilai inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda,” katanya.

Sementara itu, Juru Kunci Setopeng, Mbah Rasid, mengisahkan sejarah keberadaan Setopeng yang hingga kini tetap dijaga oleh masyarakat. Menurutnya, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tersebut harus terus diuri-uri agar tidak tergerus perkembangan zaman.

“Kami berharap tradisi Grebek Suro di Puncak Setopeng tetap lestari, semakin dikenal masyarakat luas, dan menjadi warisan budaya yang mampu memperkuat persatuan, gotong royong, serta kecintaan generasi muda terhadap kearifan lokal,” tuturnya.

Kepala Dusun Sumberjo, Parmin, mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kerukunan serta mendukung setiap kegiatan pelestarian budaya yang menjadi identitas Desa Bandungrejo.

Senada dengan itu, Kepala Desa Bandungrejo, Marlin, berharap Grebek Suro dapat terus berkembang menjadi agenda budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat luas sekaligus menjadi potensi wisata budaya yang membanggakan Kabupaten Malang.

Melalui penyelenggaraan Grebek Suro 2026, Lembaga Adat Setopeng Ngudi Rahayu kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat Bantur.

Tradisi yang memadukan nilai spiritual, sosial, dan budaya ini diharapkan terus menjadi agenda tahunan yang mempererat tali persaudaraan sekaligus menjadi daya tarik budaya Kabupaten Malang.

(dwi)