DMTVmalang.comMemasuki tahun 2025, tren ini berlanjut, dengan jumlah jemaah umroh Indonesia per April 2025 mencapai 648.485 orang menurut Kemenag RI, atau 547.122 orang menurut Menteri Haji Saudi untuk kuartal pertama. Rincian bulanan menunjukkan Januari 218.964 jemaah, Februari 217.268 jemaah, dan Maret 110.890 jemaah. Indonesia pun tercatat sebagai salah satu kontributor utama lonjakan jemaah umroh dunia.
Secara global, jumlah jemaah umroh kuartal II 2025 mencapai lebih dari 5,4 juta orang. Lonjakan ini dipicu oleh digitalisasi layanan melalui aplikasi Nusuk serta panjangnya antrean haji yang membuat banyak orang memilih umroh terlebih dahulu.
Indonesia menempati peringkat pertama dengan lebih dari 1,2 juta jemaah pada 1445 H (2024), disusul Pakistan sekitar 590.000 jemaah, India 343.000 jemaah, Iraq 215.000 jemaah, dan Mesir 200.000 jemaah.
Tren peningkatan jemaah umroh juga dipengaruhi oleh waktu keberangkatan yang populer. Umroh dapat dilakukan sepanjang tahun, namun musim dingin November hingga Februari menjadi pilihan karena cuaca sejuk, menjelang Ramadan suasana spiritual semakin terasa dengan harga lebih terjangkau, bulan Ramadan sendiri menjadi momen istimewa meski sangat padat dan mahal, sementara setelah musim haji kondisi lebih lengang dengan biaya relatif murah. Liburan sekolah juga menjadi momentum keluarga berangkat bersama.
Pertumbuhan ini sekaligus menjadi tantangan serius bagi biro travel untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Winang Surya Utama, M.Pd, Manager PT Darul Umroh Al Haramain, menegaskan bahwa umroh bukan sekadar perjalanan religi, melainkan ibadah yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Menurutnya, menjadi pelayan tamu Allah bukanlah pekerjaan biasa, melainkan ibadah. Keberhasilan perjalanan tidak hanya ditentukan oleh tiket pesawat atau hotel, tetapi oleh kualitas pelayanan yang diberikan kepada jemaah.
Fenomena lonjakan jemaah pasca pandemi disebutnya sebagai berkah yang harus disyukuri, namun tetap menuntut pengelolaan secara amanah, kompeten, dan penuh empati di tengah tantangan industri dengan masih adanya praktik penipuan berkedok umroh.
Setiap musim keberangkatan, petugas travel mendampingi jemaah dari berbagai latar belakang, mulai dari yang baru pertama kali ke luar negeri hingga lansia yang membutuhkan perhatian ekstra. Bagi banyak jemaah, petugas travel bukan hanya pendamping teknis, tetapi juga tempat bertanya, bersandar, bahkan mengadu ketika merasa bingung atau cemas.
Kisah inspiratif muncul dari seorang petani asal Probolinggo yang secara finansial mustahil berangkat umroh, namun melalui hadiah dari lembaga tempat tinggalnya ia akhirnya bisa menjadi tamu Allah. Ada pula jemaah yang dengan mudah mencium Hajar Aswad setelah sebelumnya berjanji akan mendoakan istrinya yang sakit stroke jika kelak diberi kesempatan umroh. Kesabaran dan keikhlasannya diyakini menjadi jalan Allah memudahkan langkahnya.
Pelayanan travel tidak berhenti pada tiket dan akomodasi. Agen wajib menyiapkan manasik umroh agar jemaah memahami alur ibadah sebelum berangkat. Persyaratan administratif seperti paspor aktif minimal tujuh bulan serta vaksin meningitis dan polio juga harus dipenuhi.
Winang menekankan pentingnya transparansi, jemaah berhak tahu apa yang mereka dapatkan sekaligus apa yang harus mereka siapkan. Promosi berlebihan yang tidak sesuai kenyataan hanya mencederai kepercayaan publik.
Meski minat masyarakat tinggi, kasus travel bermasalah masih terjadi. Dari skandal besar First Travel hingga dugaan kerugian miliaran rupiah pada PT Tawwaabiin Lamongan, penipuan berkedok umroh terus berulang. Banyak masyarakat tergiur harga murah tanpa mengecek legalitas perusahaan. Fenomena ini menuntut perbaikan sistem pengawasan dan edukasi publik agar jemaah tidak menjadi korban.
Menurut Winang, agen travel idealnya memegang tiga prinsip utama: amanah, kompeten, dan empati. Amanah berarti jujur dalam informasi dan bertanggung jawab penuh terhadap jemaah. Kompeten berarti memiliki pengetahuan ibadah dan manajemen perjalanan yang baik. Sementara empati adalah kemampuan memahami kondisi jemaah, baik secara fisik maupun emosional.
Mengelola biro travel umroh bukan sekadar bisnis, melainkan sekolah kehidupan. Petugas belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan arti melayani tanpa pamrih. Senyum haru jemaah di depan Ka’bah menjadi bukti bahwa pekerjaan ini adalah ibadah.
Winang berharap industri umroh di Indonesia semakin profesional dan berintegritas. Umroh bukan sekadar langkah menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan jiwa untuk menata hati dengan sabar dan ikhlas.
