Berita  

Walimurid Resah, Ricuh Terulang di SMK Turen Akibat Konflik Yayasan yang Tak Kunjung Usai

Malang – DMTVmalang.com  Dunia pendidikan kembali tercoreng. SMK (STM) Turen, yang berlokasi di Jl. Panglima Sudirman, Desa Turen, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, menjadi medan kericuhan pada Minggu (28/12/2025) akibat konflik berkepanjangan antara dua yayasan yang mengklaim kepemilikan sekolah tersebut.

Sekelompok orang tak dikenal, diduga preman, menyerbu sekolah dengan truk dan sepeda motor. Rekaman CCTV menunjukkan bagian bak truk ditabrakkan ke pagar sekolah hingga roboh, sebelum mereka memaksa masuk ke area sekolah. Aksi brutal ini memicu bentrokan dengan petugas keamanan dan staf sekolah yang masih berada di lokasi.

Ketua Yayasan Pendidikan Teknologi Wasikito Turen (YPTWT), Budi Winarto, menyebut aksi tersebut dipimpin oleh seseorang yang mengaku sebagai pengacara dan membawa massa dari luar daerah. Ia menduga kuat bahwa kelompok tersebut merupakan rekrutan dari pihak Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPPT), yang tengah bersengketa dengan YPTWT terkait kepengurusan dan pengelolaan aset sekolah.

Konflik antara YPTWT dan YPPT telah berlangsung selama puluhan tahun, bermula dari perpecahan internal pada 1984. Ketegangan kembali memuncak sejak 2025, ketika YPPT membentuk kepengurusan baru yang diklaim tidak memiliki izin operasional resmi.

AKP Muchammad Nurman dari Satreskrim Polres Malang membenarkan adanya laporan dugaan aksi premanisme yang terjadi di lokasi. “Peristiwa ini berkaitan erat dengan sengketa kepengurusan yayasan SMK Turen. Kami juga mencatat adanya laporan lain yang telah masuk ke Polda Jatim,” ujarnya.

Diketahui, laporan ke Polda Jatim telah dilayangkan oleh pihak YPPT melalui pelapor Hadi Suwarto Putro pada 22 Agustus 2024, terkait dugaan pemalsuan akta pendirian yayasan pada 2014. Pihak kepolisian berjanji akan segera memanggil semua pihak terkait dan saksi-saksi untuk proses klarifikasi.

Sementara itu, para orang tua siswa menyuarakan keresahan mereka. “Kami hanya ingin anak-anak kami belajar dengan tenang. Jangan jadikan sekolah sebagai arena konflik,” ujar salah satu walimurid yang enggan disebutkan namanya.

Mereka berharap aparat penegak hukum dan pemerintah daerah segera turun tangan menyelesaikan konflik ini secara tuntas, demi masa depan pendidikan anak-anak di Turen.

Bersambung…